Sudah lima tahun Marga memimpin sebuah lembaga pendidikan yang terkenal. Walau ia cukup ramah dan sangat memahami kebutuhan stafnya, namun mereka cenderung berdiam diri ketika berdiskusi dengannya.
Ia mengharapkan setiap anak buahnya bertumbuh pesat, namun mereka lebih suka maju perlahan-lahan.
Ia mengharapkan adanya terobosan-terobosan, namun stafnya ingin mengambil resiko yang minim.
Marga mulai frustrasi, sedangkan stafnya juga bingung dan tidak memahami persoalan yang ada.
Menurut Anda, apakah suatu kepercayaan yang diberikan kepada seseorang cukup untuk menghasilkan gerak atau transformasi? Tentu saja, belum cukup.
Seorang pemimpin perlu mengenali dengan baik siapa yang dipimpinnya serta tahu harapan-harapan mereka terhadapnya.
Secara praktis, dalam hidup sehari-hari kebanyakan orang mengharapkan para pemimpin memberikan beberapa hal ini:
1. Kepastian arah yang akan ditempuh
2. Konsistensi, artinya keberlanjutan dari apa yang telah ditempuh
3. Kemampuan untuk mengenali sumber-sumber yang tersedia dan mengelolanya
4. Kredibilitas atau integritas si pemimpin, artinya apa yang dikatakan seiring dengan apa yang dilakukannya
5. Kesediaan untuk terus mempelajari hal-hal baru
6. Keteladanan dalam pengambilan resiko
7. Kepekaan akan perasaan orang atau empati pada pengikutnya, termasuk memberikan apresiasi dan memotivasi mereka.
(Diambil dari Buku Landasan Pacu Kepemimpinan, karangan DR Robby Chandra, hal 38-39)
"Leadership is all about people. It is not about organizations. It is not about plans. It is not about strategies. It is all about people .... You have to be people-centered." - Colin Powell
Friday, May 15, 2009
Wednesday, May 06, 2009
Respon Orang Terhadap Perubahan
Karena perubahan menyangkut manusia, marilah kita lihat bagaimana umumnya manusia merespon perubahan.
Pertama, ada orang-orang yang menyukai tantangan baru. Karenanya mereka mencari hal-hal baru di dalam pekerjaan atau hidup pribadi mereka.
Bagi mereka perubahan adalah kesempatan baru.
Kedua, sebagai lawannya, juga tidak kurang jumlah orang yang justru tidak menyukai perubahan. Bagi mereka, perubahan berarti mereka harus belajar kembali untuk menyesuaikan diri. Lebih dari itu, bahkan di antara mereka ada orang yang diam-diam merasa terancam dengan adanya perubahan karena perubahan berpotensi mengganggu kepentingannya.
Barangkali orang-orang yang menyukai perubahan terlihat dari kerapnya mereka mengganti telepon genggam mereka. Bagi yang lebih berduit, mungkin mereka mengganti desain rumah mereka secara berkala.
Sebaliknya mereka yang tidak menggemari perubahan, kita dapat mengenal mereka dari gaya atau potongan rambut mereka yang mungkuin tetap mengikuti gaya tahun 60-70an, tidak berubah walaupun Elvis sudah berlalu, Beatles sudah menjadi bagian dari museum, serta Koes Plus sudah menua.
Anda tentu ingin tahu, mengapa respon mereka terhadap perubahan berbeda?
Mungkin mereka mempersepsikan perubahan secara berbeda, tapi mungkin juga karena mereka sadar akan dampak nyata dan perubahan.
Secara umum, memang ada perubahan yang menyusahkan. Artinya, perubahan itu dapat mengakibatkan berkurangnya kenyamanan seseorang. Dapat juga perubahan itu membuat orang harus belajar hal baru lagi. Tidak heran jika timbul keengganan orang pada perubahan yang merugikan mereka. Apalagi perubahan pasti membutuhkan biaya kejiwaan. Hal ini masuk akal, karena bila perubahan terjadi terus menerus, seorang manusia akan menjadi terlalu lelah dalam menganalisa, menentukan sikap dan mengambil keputusan.
Namun sebaliknya, perubahan yang berakibat pada peningkatan kenyamanan, jalur informasi dan terbukanya kesempatan biasanya diterima dengan gembira.
Siapa yang tidak suka dengan perubahan yang bernama internet atau adanya SMS?
Siapa yang tidak menyukai kehadiran banyak perusahaan penerbangan baru?
Siapa yang tidak menyukai kehadiran seorang bayi yang sudah lama ditunggu?
Jadi ada orang yang menyukai perubahan dan ada yang segan berubah. Perubahan pun ada yang menyenangkan dan ada yang dianggap menyusahkan.
Selain itu, kita simpulkan bahwa stabilitas dan konsistensi memang dibutuhkan oleh manusia, namun secara berkala orang ingin juga melihat perubahan yang menguntungkannya. Bila digambarkan maka skemanya sebagai berikut

Kedua, jenis manusia menyikapi perubahan secara berbeda. Bila perubahan tadi terjadi di dalam suatu organisasi maka pemimpin perlu mengenali persepsi pengikutnya terhadap perubahan yang akan ia laksanakan serta kecenderungan respon mereka sendiri terhadap perubahan secara umum. Dengan modal itu pemimpin dapat mengadakan perubahan namun memberikan persepsi positif kepada orang banyak yang terlibat dengan perubahan tersebut.
Jadi, walaupun pada kenyataannya suatu perubahan akan menyakitkan dan merugikan banyak orang, namun dukungan akan tetap mengalir bila sang pemimpin dapat membuat orang menganggap perubahan itu sebagai hal yang positif.
(Diambil dari buku Ketika Pemimpin Harus Menghadapi Perubahan karangan DR. Robby Chandra, hal. 26-30)
Pertama, ada orang-orang yang menyukai tantangan baru. Karenanya mereka mencari hal-hal baru di dalam pekerjaan atau hidup pribadi mereka.
Bagi mereka perubahan adalah kesempatan baru.
Kedua, sebagai lawannya, juga tidak kurang jumlah orang yang justru tidak menyukai perubahan. Bagi mereka, perubahan berarti mereka harus belajar kembali untuk menyesuaikan diri. Lebih dari itu, bahkan di antara mereka ada orang yang diam-diam merasa terancam dengan adanya perubahan karena perubahan berpotensi mengganggu kepentingannya.
Barangkali orang-orang yang menyukai perubahan terlihat dari kerapnya mereka mengganti telepon genggam mereka. Bagi yang lebih berduit, mungkin mereka mengganti desain rumah mereka secara berkala.
Sebaliknya mereka yang tidak menggemari perubahan, kita dapat mengenal mereka dari gaya atau potongan rambut mereka yang mungkuin tetap mengikuti gaya tahun 60-70an, tidak berubah walaupun Elvis sudah berlalu, Beatles sudah menjadi bagian dari museum, serta Koes Plus sudah menua.
Anda tentu ingin tahu, mengapa respon mereka terhadap perubahan berbeda?
Mungkin mereka mempersepsikan perubahan secara berbeda, tapi mungkin juga karena mereka sadar akan dampak nyata dan perubahan.
Secara umum, memang ada perubahan yang menyusahkan. Artinya, perubahan itu dapat mengakibatkan berkurangnya kenyamanan seseorang. Dapat juga perubahan itu membuat orang harus belajar hal baru lagi. Tidak heran jika timbul keengganan orang pada perubahan yang merugikan mereka. Apalagi perubahan pasti membutuhkan biaya kejiwaan. Hal ini masuk akal, karena bila perubahan terjadi terus menerus, seorang manusia akan menjadi terlalu lelah dalam menganalisa, menentukan sikap dan mengambil keputusan.
Namun sebaliknya, perubahan yang berakibat pada peningkatan kenyamanan, jalur informasi dan terbukanya kesempatan biasanya diterima dengan gembira.
Siapa yang tidak suka dengan perubahan yang bernama internet atau adanya SMS?
Siapa yang tidak menyukai kehadiran banyak perusahaan penerbangan baru?
Siapa yang tidak menyukai kehadiran seorang bayi yang sudah lama ditunggu?
Jadi ada orang yang menyukai perubahan dan ada yang segan berubah. Perubahan pun ada yang menyenangkan dan ada yang dianggap menyusahkan.
Selain itu, kita simpulkan bahwa stabilitas dan konsistensi memang dibutuhkan oleh manusia, namun secara berkala orang ingin juga melihat perubahan yang menguntungkannya. Bila digambarkan maka skemanya sebagai berikut

Kedua, jenis manusia menyikapi perubahan secara berbeda. Bila perubahan tadi terjadi di dalam suatu organisasi maka pemimpin perlu mengenali persepsi pengikutnya terhadap perubahan yang akan ia laksanakan serta kecenderungan respon mereka sendiri terhadap perubahan secara umum. Dengan modal itu pemimpin dapat mengadakan perubahan namun memberikan persepsi positif kepada orang banyak yang terlibat dengan perubahan tersebut.
Jadi, walaupun pada kenyataannya suatu perubahan akan menyakitkan dan merugikan banyak orang, namun dukungan akan tetap mengalir bila sang pemimpin dapat membuat orang menganggap perubahan itu sebagai hal yang positif.
(Diambil dari buku Ketika Pemimpin Harus Menghadapi Perubahan karangan DR. Robby Chandra, hal. 26-30)
Tuesday, May 05, 2009
Ketika Perubahan Tidak Terhindarkan
Nyatanya, pada zaman ini, dunia moderen terus menerus berubah. Semakin lama semakin cepat.
Percepatan ini dapat dibuktikan dalam kemunculan produk-produk baru bagi konsumen.
Televisi sudah hadir di tahun 1940-an, namun baru di tahun 1950-an orang-orang di Indonesia mulai mengenal televisi hitam putih.
Ketika personal computer (PC) mulai hadir sebagai konsep, hanya butuh 15 tahun sebelum komputer hadir di mana-mana. Selanjutnya internet, telepon genggam dan personal digital assistance (PDA) terus mengubah gaya hidup kita baik di rumah maupun di kantor. Semua perubahan itu semakin lama semakin cepat.
Perubahan masuk dan mempengaruhi ke dalam setiap aspek kehidupan. Kehadiran televisi ternyata mengubah jam tidur kita, cara kita bersantai dengan keluarga serta bagaimana kita berespon pada berita-berita.
Beberapa contoh pendorong perubahan antara lain teknologi rekonstruksi politik atau pergolakan sosial.
>> Jenis perubahan tergantung kekuatan, kecepatan dan tampilannya <<
Kita tahu bahwa suatu perubahan memiliki arah. Kemudian selain arah, perubahan juga memiliki kekuatan.
Artinya ada suatu perubahan yang tidak kuat dan ada suatu perubahan yang dampaknya sangat terasa dalam berbagai bidang kehidupan.
Selanjutnya, ada perubahan yang sangat cepat dan ada perubahan yang berangsur-angsur.
Akhirnya ada perubahan yang mudah dikenali, namun ada perubahan yang wujudnya tidak kentara atau samar.
Para pakar, wartawan serta pengamat telah menuliskan berbagai pembahasan mengenai perubahan yang terjadi.
Mereka yang memiliki akses pada database yang beragam menuliskan pandangannya tentang perubahan tersebut ke dalam buku-buku yang terkenal seperti The Secular City, The Third Wave, Megatrends, The 500 Years Delta, Global Mind Change, Material Revolution, The Knowledge-value Revolution (Chika), The Great Disruption dan masih banyak lainnya.
Dalam waktu singkat, melalui buku-buku tersebut, para pimpinan berbagai organisasi menjadi akrab dengan nama-nama seperti Harvey Cox, Alvin Toffler, John Naisbitt, Tom Forrester, Willis Harman, Taichi Sakaiya, juga Francis Fukuyama.
Disukai atau tidak, zaman terus berubah dan berdampak pada semua aspek kehidupan.
Secara umum percepatan timbulnya penyebab perubahan tadi semakin meningkat.
(Diambil dari buku Ketika Pemimpin Harus Menghadapi Perubahan karangan DR. Robby Chandra, hal. 23-25)
Keterangan:
Harvey Cox (http://en.wikipedia.org/wiki/Harvey_Cox)
Alvin Toffler (http://en.wikipedia.org/wiki/Alvin_Toffler)
John Naisbitt (http://en.wikipedia.org/wiki/John_Naisbitt)
Tom Forrester (http://pipl.com/directory/people/Tom/Forester)
Willis Harman (http://en.wikipedia.org/wiki/Willis_Harman)
Taichi Sakaiya (http://www.au.emb-japan.go.jp/pdf/Mr_Taichi_Sakaiya's_CV.pdf)
Francis Fukuyama (http://en.wikipedia.org/wiki/Francis_Fukuyama)
Percepatan ini dapat dibuktikan dalam kemunculan produk-produk baru bagi konsumen.
Televisi sudah hadir di tahun 1940-an, namun baru di tahun 1950-an orang-orang di Indonesia mulai mengenal televisi hitam putih.
Ketika personal computer (PC) mulai hadir sebagai konsep, hanya butuh 15 tahun sebelum komputer hadir di mana-mana. Selanjutnya internet, telepon genggam dan personal digital assistance (PDA) terus mengubah gaya hidup kita baik di rumah maupun di kantor. Semua perubahan itu semakin lama semakin cepat.
Perubahan masuk dan mempengaruhi ke dalam setiap aspek kehidupan. Kehadiran televisi ternyata mengubah jam tidur kita, cara kita bersantai dengan keluarga serta bagaimana kita berespon pada berita-berita.
Beberapa contoh pendorong perubahan antara lain teknologi rekonstruksi politik atau pergolakan sosial.
>> Jenis perubahan tergantung kekuatan, kecepatan dan tampilannya <<
Kita tahu bahwa suatu perubahan memiliki arah. Kemudian selain arah, perubahan juga memiliki kekuatan.
Artinya ada suatu perubahan yang tidak kuat dan ada suatu perubahan yang dampaknya sangat terasa dalam berbagai bidang kehidupan.
Selanjutnya, ada perubahan yang sangat cepat dan ada perubahan yang berangsur-angsur.
Akhirnya ada perubahan yang mudah dikenali, namun ada perubahan yang wujudnya tidak kentara atau samar.
Para pakar, wartawan serta pengamat telah menuliskan berbagai pembahasan mengenai perubahan yang terjadi.
Mereka yang memiliki akses pada database yang beragam menuliskan pandangannya tentang perubahan tersebut ke dalam buku-buku yang terkenal seperti The Secular City, The Third Wave, Megatrends, The 500 Years Delta, Global Mind Change, Material Revolution, The Knowledge-value Revolution (Chika), The Great Disruption dan masih banyak lainnya.
Dalam waktu singkat, melalui buku-buku tersebut, para pimpinan berbagai organisasi menjadi akrab dengan nama-nama seperti Harvey Cox, Alvin Toffler, John Naisbitt, Tom Forrester, Willis Harman, Taichi Sakaiya, juga Francis Fukuyama.
Disukai atau tidak, zaman terus berubah dan berdampak pada semua aspek kehidupan.
Secara umum percepatan timbulnya penyebab perubahan tadi semakin meningkat.
(Diambil dari buku Ketika Pemimpin Harus Menghadapi Perubahan karangan DR. Robby Chandra, hal. 23-25)
Keterangan:
Harvey Cox (http://en.wikipedia.org/wiki/Harvey_Cox)
Alvin Toffler (http://en.wikipedia.org/wiki/Alvin_Toffler)
John Naisbitt (http://en.wikipedia.org/wiki/John_Naisbitt)
Tom Forrester (http://pipl.com/directory/people/Tom/Forester)
Willis Harman (http://en.wikipedia.org/wiki/Willis_Harman)
Taichi Sakaiya (http://www.au.emb-japan.go.jp/pdf/Mr_Taichi_Sakaiya's_CV.pdf)
Francis Fukuyama (http://en.wikipedia.org/wiki/Francis_Fukuyama)
Wednesday, March 04, 2009
Buku serial kepemimpinan 1: "KAMU JUGA BISA!"

Buku ini adalah buku kepemimpinan yang rencananya akan diterbitkan berseri oleh Young Leaders Institute.
Seri yang pertama ini diberi judul KAMU JUGA BISA!
Dalam buku ini, penulis mengajak pembaca untuk bisa mengerti kepemimpinan dengan benar melalui perspektif Alkitab yang adalah Firman Allah sehingga bisa melakukannya mulai dari bentuk yang paling sederhana ke yang paling rumit, karena KAMU JUGA BISA!
Untuk mendapatkan buku KAMU JUGA BISA!, Anda dapat menghubungi kami melalui email (ylinstitute@gmail.com) atau tlp. 021-30044994
Subscribe to:
Posts (Atom)
